Latar Belakang

Jaringan Paguyuban Peduli Buruh Migran Indonesia “Mekarwangi” lahir pada tanggal 16 Juli 2005 di Kabupaten Kuningan. Mekarwangi merupakan jaringan yang terdiri dari paguyuban-paguyuban. Paguyuban ini sendiri unsur keanggotaannya berasal dari mantan buruh migran dan keluarganya, unsur pemerintah setempat, orang-perorangan yang memiliki kepedulian terhadap masalah buruh migran berdasarkan kapasitasnya, serta unsur pemerintah setempat. Jaringan Mekarwangi beranggotakan 10 paguyuban yang tersebar di berbagai daerah yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon.

Mekarwangi sebagai organisasi yang independen secara konsisten bekerja untuk memperjuangkan kesejahteraan buruh migran dan anggota keluarganya dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Pada prinsipnya kerja-kerja yang terus digelorakan dilakukan bersama-sama dengan komunitas dan bukan semata-mata oleh organisasi itu sendiri. Inisiatif-initiatif dikembangkan oleh multi aktor dimana jaringan bersama mitranya secara bersama-sama berperan aktif untuk mencapai tujuan bersama.

Kemandirian organisasi menjadi cita-cita luhur bagi jaringan. Untuk mewujudkan hal itu jaringan secara sinergis melakukan berbagai program kegiatan yang bertumpu pada sumber daya komunitas. Namun demikian jaringan akan tetap membuka diri untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak yang berkepentingan seperti lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah baik lokal, nasional, regional maupun internasional. Dengan demikian harapan masyarakat madani yang egaliter dapat terwujud.


Visi

Mekarwangi sebagai organisasi independen menegaskan keberpihakan terhadap kepentingan buruh migran dan anggota keluarganya untuk berdaya diri dalam segala aspek kehidupan sebagai bagian masyarakat Indonesia.


Misi

Mekarwangi berjuang untuk mengembangkan potensi lokal dan sumber daya masyarakat di basis komunitas melalui kemitraan dengan berbagai pihak pada tingkat lokal, regional, nasional dan internasional secara demokratis.



Foto: 
Paguyuban PPBMI Wlahar dan PPBMI Adipala, Cilacap mengadakan kegiatan menyablon dalam rangka meningkatkan keterampilan warga desa sekaligus melakukan penyebaran informasi untuk komunitas buruh migran. Pesan-pesan seperti "Janji Calo Tidak Selalu Sesuiai Kenyataan", "Hentikan Eksploitasi terhadap BMI" disablon pada sticker, tas dan kaos. [Foto: Muhammad Zainuri, 2006]